Minggu, 13 Maret 2011

SIMBOL DAN ARSITEKTUR -Oleh : Mr. Eduard Tjahjadi-

Diposting oleh Novia di 20.27 0 komentar
SIMBOL KEKUASAAN EKONOMI
Karya-karya arsitektur banyak digunakan sebagai simbol kekuasaan ekonomi suatu negara. Seperti yang dapat kita lihat pada contoh-contoh di bawah ini:
  • FRANKFURT : Terkenal dengan gedung 101 lantai.

    • SHANGHAI : Membangun gedung 102 lantai agar dapat menyaingi gedung 101 lantai di Frankfurt.
     

      Pada awalnya desain gedung ini diberi bentuk lingkaran di atasnya, namun kemudian diganti menjad persegi panjang. Dengan alasan, jika menggunakan bentuk lingkaran orang-orang dapat salah menafsirkan bahwa gedung tersebut adalah milik Jepang. Selain itu, karena Jepang pernah menjajah China sebelumnya juga menjadi alasan mengapa desain gedung ini berubah.

      • DUBAI, UAE (Construction), Arab Saudi
       
      Merupakan hotel tertinggi di dunia, Namun karena krisis moneter yang dialami Arab Saudi, maka hotel ini hanya dibuka selama satu minggu saja. Arsitekur-arsitektur yang terdapat pada bangunan-bangunan di Dubai ini menonjolkan kejayaan Dubai dan tentunya untuk menarik tourism.




      • TRAGEDI 9/11
      Gedung World Trade Center merupakan sebuah symbol kekuatan ekonomi dari Amerika Serikat. Dengan mengatasnamakan kepentingan tertentu, gedung ini di hancurkan oleh sekelompok orang tak bertanggung jawab. Dengan tujuan agar kondisi ekonomi Amerika Serikat terguncang.

      SIMBOL DEMOKRASI
      • National Mall, Washington DC
      • Reichstag (Bundestag), Berlin
      • Bunderan HI, Jakarta
      • Washington DC Map



      • National Mall
      Merupakan sebuah monumen dengan berbagai campuran taman, danau dan lain-lain. U.S Capital merupakan gedung parlemen dan senat Amerika Serikat, dimana di gedung inilah presiden AS akan diambil sumpahnya.

      • Reichstag

        Gedung parlemen di Berlin sampai Perang Dunia II. Tadinya berletak di Jerman Timur (yang cenderung Komunis),  namun tidak difungsikan sebagai gedung parlemen. Gedung ini hancur pada tahun 1945 saat perang dunia II, dan kembali direnovasi pada 1970. Saat Berlin menjadi ibukota Jerman, gedung ini dipugar, dan berfungsi kembali sebagai perlemen.
        Arsitek yang merenovasi gedung ini adalah Norman Robert Foster. Tidak ada yang berubah hanya terdapat tambahan sebuah kubah yang terbuat dari dari kaca dibagian atas gedung ini.
        Kubah ini terbuat dari kaca sehingga transparan (menunjukkan keterbukaan pemerintahan/parlemen).
        Reichstagdome Cupola terbuka untuk umum, dari sana dapat terlihat pemandangan kota Berlin. Dari atas dapat terlihat ruang sidang yang terbuka, mencerminkan bahwa kekuasaan tertinggi terdapat di tangan rakyat. 




        • Gedung MPR/DPR RI
          Gedung MPR/DPR RI sebenarnya bukan merupakan gedung parlemen. Gedung ini dibuat atas usul Presiden Soekarno yang sifatnya netral (dalam dunia internasional) meskipun agak sedikit ke arah kiri (komunis sosialis). Ketika Gerakan Non Blok dibentuk, gedung ini dibangun untuk dijadikan tempat konfrensi.
          Makna dari bentuk kubah ini tidak ada hubungannya dengan demokrasi maupun ekonomi pemerintahan. Gedung ini cenderung tertutup dan berbeda dengan gedung parlemen milik Jerman. Hanya dari sisi arsitektur bentuk kubah ini sebagai penyangga jika dibandingkan dengan pilar-pilar, bentuk kubah lebih leluasa untuk memandang.
          • Bundaran HI (Hotel Indonesia)
             Terdapat patung ditengahnya sebagai simbol selamat datang untuk peserta Asian Games 1972. Ruang disekitar bundaran digunakan sebagai simbol untuk mengungkapkan demokrasi di Jakarta (banyak aksi unjuk rasa dan demonstrasi).

            SIMBOL KEMAJUAN TEKNOLOGI
            • Menara Eiffel, Paris, Perancis

              Dibangun antara 1887 dan 1889 sebagai pintu masuk Exposition Universelle, sebuah pameran dunia untuk merayakan seabad Revolusi Perancis. Direncanakan untuk dibongkar tahun 1909, sehingga menara dirancang agar mudah diruntuhkan.
              Kota Paris telah berencana meruntuhkannya pada akhir ijinnya. Namun, menara ini terbukti memberikan banyak keuntungan, sehingga menara ini dibiarkan berdiri setelah ijinnya kadarluarsa.






              • Centre Georges Pompidou
              Dibangun 1971–1977 di daerah Beaubourg, Paris. Bangunan ini dikenal juga sebagai Pompidou Centre atau Beauborg
              §            Arsitek: Renzo Piano, Richard Rogers dan Su Rogers.
              Gedung ini menampung:
              §         Bibliothèque publique d'information, sebuah public library.
              §         Musèe National d’Art Moderne, museum modern art terbesar di Europe.
              §         IRCM, pusat penelitian musik dan akustik. 

              • Greenpix Media Wall

              “revolutionized museum
              s, transforming what had once been elite monuments into popular places of social and cultural exchange, woven into the heart of the city”


              SIMBOL SUSTAINABILITY APPROACH
              Sustainability berarti pembangunan berkelanjutan. Arsitektur harus dapat menunjang sumber daya alam dan ramah lingkungan.
              ·         The Living Roof of the California Academy of Sciences, a museum and research facility in San Francisco, California

              • Expo 2010 Shanghai, China

              Paviliun buatan Negara Inggris ini berbentuk kubah. Didalam kubah tersebut terdapat lubang-lubang kaca yang masing-masing berisi benih tanaman dari seluruh dunia. Dengan anggapan bila terjadi sesuatu di dunia, masih ada benih yang lengkap di dalam kubah tersebut.

               


              Indonesia sendiri membuat sebuah paviliun dengan bahan-bahan alami seperti bambu misalnya.








              KESIMPULAN
                          Dari penjelasan yang telah saya buat, dapat disimpulkan bahwa arsitektru sebuah gedung tidak dibuat begitu saja, tetapi memiliki makna dibalik setiap bentuk dari bangunannya atau dengan kata lain merupakan simbol dari suatu hal. Misalnya :
              §         Kekuasaan
                      Politik
                      Kebangkitan/kejayaan kebangsaan
                      Ekonomi
              §         Demokrasi
              §         Kemajuan teknologi
              §         Sustainability Approach 

              SUMBER 

              Ringkasan perkuliahan dari Mr.Eduard Tjahjadi
              Gambar dari www.google.com


              Minggu, 06 Maret 2011

              SEMIOTIKA - Oleh Kurnia Setiawan, S.Sn., M.Hum -

              Diposting oleh Novia di 07.51 0 komentar
              Kata Semiotika berasal dari kata Yunani, seme, semeiotikos yang berarti penafsir tanda. Semiotika berarti ilmu analisis tanda atau studi tentang bagaimana sistem penandaan berfungsi.
              Semiotik atau semiologi merupakan terminologi yang merujuk pada ilmu yang sama. Istilah semiologi lebih banyak digunakan di Eropa sedangkan semiotik lazim dipakai oleh ilmuwan Amerika. Secara umum, semiotik didefinisikan sebagai berikut. Semiotics is usually defined as a general philosophical theory dealing with the production of signs and symbols as part of code systems which are used to communicate information. Semiotics includes visual and verbal as well as tactile and olfactory signs (all signs or signals which are accessible to and can be perceived by all our senses) as they form code systems which systematically communicate information or massages in literary every field of human behaviour and enterprise.
              Semiotik biasanya didefinisikan sebagai teori filsafat umum yang berkenaan dengan produksi tanda-tanda dan simbol-simbol sebagai bagian dari sistem kode yang digunakan untuk mengomunikasikan informasi. Semiotik meliputi tanda-tanda visual dan verbal serta tactile dan olfactory [semua tanda atau sinyal yang bisa diakses dan bisa diterima oleh seluruh indera yang kita miliki] ketika tanda-tanda tersebut membentuk sistem kode yang secara sistematis menyampaikan informasi atau pesan secara tertulis di setiap kegiatan dan perilaku manusia).

              Beberapa Tokoh Yang Menjadi Pengagas Semiotika :
              1.     St Agustinus(354-430)
              Di abad pertengahan dikembangkan ilmu tanda oleh St. Agustinus (354-430), dia mengangkat soal tanda menjadi objek pemikiran filosofis dan dibatasi pada bagaimana kata fisik berhubungan dengan “kata mental”. OMG (Oh my God!) apa yang membuat saya menyebut kata “God”?

              2.     William Of Ockham, OFM (1285-1349)
              Ia mempertajam kembali studi tentang tanda dan mengkategorikan tanda berdasarkan sifatnya
                                              
              3.     John Locke (1632-1740)
              Menurutnya, eksploitasi tanda akan mengarah pada terbentuknya basis logika baru. Hal ini terlihat dalam karyanya yang berjudul “An Essay Concerning Human Understanding” (1690).

              Ia terkenal dengan teorinya tentang tabula rasa yaitu dimana anak-anak adalah seperti kertas kosong yang belum terisi dan harus diisi oleh orang dewasa.

              Lalu kemudian muncul Saussure, disusul oleh Peirce. Mereka yang kemudian menjadi rujukan bagi perkembangan semiotika pada abad 20

              SEMIOLOGY / SEMIOTIKA
              4.     Ferdinand De Saussure (1857-1913)
              Ferdinand de Saussure yang berasal dari Swiss awalnya merupakan seorang pengajar di bidang Sansekerta dan linguistik sejarah. Ia mengkaji linguistic secara sinkronik buka diakronik. Kajian Ferdinand de Saussure (Bapak linguistik modern 1857-1913) tentang tanda bahwa tanda-tanda disusun dari dua (2) elemen, yaitu:
                       aspek citra tentang bunyi dan
                       sebuah konsep di mana citra bunyi disandarkan.
              Ia mendefinisikan tanda linguistik sebagai entitas dua sisi.
                       Sisi pertama disebutnya sebagai penanda (signifier)
                       Sisi kedua disebutnya sebagai petanda (signified)

                       Penanda (signifier) adalah aspek material dari sebuah tanda, atau aspek citra tentang bunyi (semacam kata atau representasi visual). Contoh: orang menyebut “anjing” (a/n/j/i/n/dan/g), apa yang didengar bukanlah anjing yang sesungguhnya, melainkan sebuah konsep tentang “keanjingan”, yaitu: berkaki empat, menggonggong, suka makan tulang, gigi yang tajam.
                       Petanda (signified)adalah sebuah konsep di mana citra bunyi disandarkan. Contoh: konsep anjing yang sesungguhnya bisa saja berupa jenis buldog, spaniel, pudel dan lain-lain
              Kajian Saussure tentang tanda linguistik bersifat arbitrer, maksudnya konsep tentang anjing tidak harus selalu dibangkitkan oleh penanda dalam bunyi a/n/j/i/n/g, tapi bisa pula dengan d/o/g (Inggris) atau h/u/n/d (Jerman) atau c/h/i/e/n (Perancis)
              Suatu penanda tanpa petanda tidak berarti apa-apa dan karena itu tidak merupakan tanda. Sebaliknya, suatu petanda tidak mungkin disampaikan atau ditangkap lepas dari penanda; petanda atau yang dtandakan itu termasuk tanda sendiri dan dengan demikian merupakan suatu faktor linguistik. “Penanda dan petanda merupakan kesatuan seperti dua sisi dari sehelai kertas,” kata Saussure.
              Louis Hjelmslev, seorang penganut Saussurean berpandangan bahwa sebuah tanda tidak hanya mengandung hubungan internal antara aspek material (penanda) dan konsep mental (petanda), namun juga mengandung hubungan antara dirinya dan sebuah sistem yang lebih luas di luar dirinya. Bagi Hjelmslev, sebuah tanda lebih merupakan self-reflective dalam artian bahwa sebuah penanda dan sebuah petanda masing-masing harus secara berturut-turut menjadi kemampuan dari ekspresi dan persepsi. Louis Hjelmslev dikenal dengan teori metasemiotik (scientific semiotics). Sama halnya dengan Hjelmslev, Roland Barthes pun merupakan pengikut Saussurean yang berpandangan bahwa sebuah sistem tanda yang mencerminkan asumsi-asumsi dari suatu masyarakat tertentu dalam waktu tertentu.

              5.     Charles Sanders Peirce (1839-1914)
              Charles Sanders Peirce, seorang filsuf berkebangsaan Amerika, mengembangkan filsafat pragmatisme melalui kajian semiotik. Bagi Peirce, tanda “is something which stands to somebody for something in some respect or capacity.” Sesuatu yang digunakan agar tanda bisa berfungsi disebut ground. Konsekuensinya, tanda (sign atau representamen) selalu terdapat dalam hubungan triadik, yakni ground, object, dan interpretant.
              Kajian Peirce tentang tanda bahwa tanda-tanda berkaitan dengan objek-objek yang menyerupainya, keberadaannya memiliki hubungan sebab akibat dengan tanda-tanda atau karena ikatan konvensional dengan tanda-tanda tersebut. Peirce menggunakan istilah (level objek):
                       Ikon untuk kesamaannya
              Ikon adalah tanda yang hubungan antara penanda dan petandanya bersifat bersamaan bentuk alamiah. Dengan kata lain, ikon adalah hubungan antara tanda dan objek atau acuan yang bersifat kemiripan; misalnya foto.
                       Indeks untuk hubungan sebab akibat
              Indeks adalah tanda yang menunjukkan adanya hubungan alamiah antara tanda dan petanda yang bersifat kausal atau hubungan sebab akibat, atau tanda yang langsung mengacu pada kenyataan; misalnya asap sebagai tanda adanya api. Tanda seperti itu adalah tanda konvensional yang biasa disebut simbol.
                       Simbol untuk asosiasi konvensional
              Jadi, simbol adalah tanda yang menunjukkan hubungan alamiah antara penanda dengan petandanya.
              Berbeda dengan Saussure (tanda memiliki dua sisi), Peirce meyakini bahwa tanda dibentuk melalui hubungan segi tiga.
                       Representamen (tanda)
                       Objek (sesuatu yang dirujuk)
                      Interpretant (“hasil” hubungan Representamen dengan Objek)
              Objek adalah sesuatu yang dirujuk oleh Tanda, tetapi Objek bisa jadi berupa: sebuah Objek Representasi (Immediate Object) atau sebuah Objek Dinamik (Dynamic Object)
               
               Atas dasar hubungan triadic antara ground, object, dan interpretant tersebut. Peirce membuat klasifikasi tanda. Tanda yang dikaitkan dengan ground dibaginya menjadi qualisign, sinsign, dan legisign.
                       Qualisign adalah kualitas yang ada pada tanda.
                       Sinsign adalah eksistensi aktual benda atau peristiwa yang ada pada tanda.
                       legisign adalah norma yang dikandung oleh tanda.
              Level Interpretant
                       Rheme adalah tanda yang memungkinkan orang menafsirkan berdasarkan pilihan. (kemungkinan)
                       Dicent sign atau dicisign adalah tanda sesuai dengan kenyataan. (fakta)
                       Argument adalah yang langsung memberikan alasan tentang sesuatu. (logika)
              Pierce membedakan 3 konsep dasar semiotik , yaitu :
                       Sintaksis Semiotik
              Mempelajari hubungan antartanda. Hubungan ini tidak terbatas pada sistem yang sama. Contoh: teks dan gambar dalam wacana iklan merupakan dua sistem tanda yang berlainan, akan tetapi keduanya saling bekerja sama dalam membentuk keutuhan wacana iklan.
                       Semantik Semiotik
              Mempelajari hubungan antara tanda, objek, dan interpretannya
                       Pragmatik
              Mempelajari hubungan antara tanda, pemakai tanda, dan pemakaian tanda.
              Ketiganya membentuk hubungan dalam melakukan proses semiotis. Konsep semiotik ini akan digunakan untuk melihat hubungan tanda-tanda dalam iklan (dalam hal ini tanda non-bahasa) yang mendukung keutuhan wacana.

              6.     Roland Barthes (1915-1989)
              Kemudian muncul Roland Barthes. Menurut Barthes, sistem tanda mencerminkan asumsi-asumsi dari suatu masyarakat dalam waktu tertentu. Semiotik, atau dalam istilah Barthes semiologi, pada dasarnya hendak mempelajari bagaimana kemanusiaan (humanity) memaknai hal-hal (things). Memaknai (to sinify) dalam hal ini tidak dapat dicampuradukkan dengan mengkomunikasikan (to communicate).
              Memaknai berarti bahwa objek-objek tidak hanya membawa informasi, dalam hal mana objek-objek itu hendak dikomunikasikan, tetapi juga mengkonstitusi sistem terstruktur dari tanda. Salah satu wilayah penting yang dirambah Barthes dalam studinya tentang tanda adalah peran pembaca (the reader). Konotasi, walaupun merupakan sifat asli tanda, membutuhkan keaktivan pembaca agar dapat berfungsi. Barthes secara lugas mengulas apa yang sering disebutnya sebagai sistem pemaknaan tataran ke-dua, yang dibangun di atas sistem lain yang telah ada sebelumnya. sistem ke-dua ini oleh Barthes disebut dengan konotatif, yang di dalam buku Mythologies-nya secara tegas ia bedakan dari denotative atau sistem pemaknaan tataran pertama.
              Dari peta Barthes di atas terlihat bahwa tanda denotatif terdiri atas penanda dan petanda. Akan tetapi, pada saat bersamaan, tanda denotatif adalah juga penanda konotatif. Jadi, dalam konsep Barthes, tanda konotatif tidak sekadar memiliki makna tambahan namun juga mengandung kedua bagian tanda denotatif yang melandasi keberadaannya.
              Pada dasarnya, ada perbedaan antara denotasi dan konotasi dalam pengertian secara umum serta denotasi dan konotasi yang dipahami oleh Barthes. Di dalam semiologi Barthes dan para pengikutnya, denotasi merupakan sistem signifikasi tingkat pertama, sementara konotasi merupakan tingkat kedua. Dalam hal ini denotasi justru lebih diasosiasikan dengan ketertutupan makna. Sebagai reaksi untuk melawan keharfiahan denotasi yang bersifat opresif ini, Barthes mencoba menyingkirkan dan menolaknya. Baginya yang ada hanyalah konotasi. Ia lebih lanjut mengatakan bahwa makna “harfiah” merupakan sesuatu yang bersifat alamiah (Budiman, 1999:22).
              Dalam kerangka Barthes, konotasi identik dengan operasi ideologi, yang disebutnya sebagai ‘mitos’ dan berfungsi untuk mengungkapkan dan memberikan pembenaran bagi nilai-nilai dominan yang berlaku dalam suatu periode tertentu. Di dalam mitos juga terdapat pola tiga dimensi penanda, petanda, dan tanda. Namun sebagai suatu sistem yang unik, mitos dibangun oleh suatu rantai pemaknaan yang telah ada sebelumnya atau dengan kata lain, mitos adalah juga suatu sistem pemaknaan tataran ke-dua. Di dalam mitos pula sebuah petanda dapat memiliki beberapa penanda.

              7.     Umberto Eco (1932- ____ )
              Seorang Sejarahwan, filsuf dan novelis berkebangsaan Italia. Ia lebih menekankan manipulasi tanda dalam studi mengenai semiotika. Menurutnya tanda dapat digunakan untuk menyatakan kebenaran juga kebohongan.

              KESIMPULAN
              Di dalam dunia periklanan, semiotik diperlukan sebagai pemberi citra yang akan mencirikan sebuah produk. Selain itu, dapat juga membantu memperkuat kesan yang ada dalam sebuah iklan. Namun, semiotik sendiri ternyata memiliki sebuah kelemahan, dimana tidak semua orang memiliki pemahaman yang sama akan suatu hal. Jadi ketika melihat sebuah tanda yang sama, belum tentu setiap orang menafsirkan sesuatu yang sama juga.

              Semiotik sendiri nantinya akan sangat berguna bagi para praktisi iklan dalam membuat sebuah iklan yang menarik. Dengan menggunakan tanda-tanda yang ada, diharapkan iklan yang terbentuk juga akan menjadi lebih kreatif.

              SUMBER
              ·        Ringkasan perkuliahan dari Bapak Kurnia Setiawan, S.Sn., M.Hum
              ·        Gambar dari www.google.com

              Minggu, 27 Februari 2011

              BAHASA INDONESIA – Oleh : Prof. Dr. Ir. Dali S. Naga, MMSI-

              Diposting oleh Novia di 08.07 0 komentar

              BAGIAN PERTAMA
              Pada bagian pertama ini, akan dijelaskan mengenai sejarah Bahasa Indonesia secara umum. Perubahan yang terjadi dari Bahasa Melayu hingga akhirnya menjadi Bahasa Indonesia. Bagaimana aksara yang digunakan dalam Bahasa Melayu serta ciri-ciri dari Bahasa Melayu itu sendiri. Menjelaskan secara singkat jenis-jenis Bahasa Melayu yang dulunya digunakan di Indonesia. Bagian ini merupakan penjelasan awal dari perkembangan Bahasa Indonesia.
              Video Sumpah Pemuda sebagai Awal Dari Lahirnya Bahasa Indonesia

              Sejarah Bahasa Indonesia
                        Kelahiran bahasa Indonesia
                       Pada tanggal 28 Oktober 1928 (Sumpah Pemuda)
                       Diangkat dari bahasa Melayu (Riau)
                       Dibina melalui Kongres Bahasa Indonesia I (1938)
                       Disusul dengan Kongres Bahasa Indonesia II (1954)
                       Kongres Bahasa Indonesia melahirkan lembaga yang kini dikenal sebagai Pusat Bahasa
                        Pembinaan bahasa Indonesia
                       Kini dibina bersama oleh Pusat Bahasa dan Kongres Bahasa Indonesia
                       Selain itu terdapat organisasi yang bertujuan membina bahasa Indonesia

              Bahasa Melayu ke Bahasa Indonesia
                        Perkembangan bahasa
                       Bahasa Melayu Purba
                       Bahasa Melayu Kuno (zaman Sriwijaya, abad 4 – abad 14)
                       Bahasa Melayu Klasik (abad 14 – abad 18)
                       Bahasa Melayu Peralihan (abad 19)
                       Bahasa Melayu Baru (abad 20)
                       Bahasa Melayu Modern (Bahasa Indonesia dan Bahasa Malaysia)
                       Menjadi bahasa Indonesia pada Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928
                        Ragam Bahasa Melayu
                       Melayu Riau Johor
                       Melayu Betawi
                       Melayu Cina
                       Melayu Manado
                       Melayu Maluku
                       Melayu Balai Pustaka, Pujangga Baru,
                       dan sebagainya

              Bahasa Melayu Kuno
                        Bahasa Melayu Kuno pada prasasti
                       Prasasti Kedukan Bukit (Palembang, 16 Juni 682)
                       Prasasti Talang Tuwo (Palembang, 23 Maret 684)
                       Prasasti Kota Kapur (Bangka, 28 Februari 686)
                       Prasasti Karang Brahi (Jambi, tahun 692)
                       Prasasti Telaga Batu (Palembang, abad ke-7)
                       Prasasti Palas Pasemah (Lampung Selatan, abad ke-7)
                       Prasasti Sojomerto (Pekalongan, abad ke-7)
                       Prasasti Manjucrighra (Klaten, 6 November 792)
                       Prasasti Kayumwungun (Temanggung, tahun 824)
                       Prasasti Sang Hyang Wintang I (Gandasuli ,Temanggung, Jawa Tengah, tahun 832)
                       Prasasti Sang Hyang Wintang II (Gandasuli ,Temanggung, Jawa Tengah)
                       Prasasti Dampu Hawang Glis (Gandasuli, Temanggung, Jawa Tengah)
                       Prasasti Laguna (Manila, tahun 900, tidak lengkap)
                       Prasasti Hujung Langit (Lampung, tahun 997)
                       Prasasti Bukateja (Purbalingga, Jawa Tengah)
                       Prasasti Dewa Drabya (Dieng, Jawa Tengah)
                       Prasati Kedonganan (Bali)
                       Prasasti Loloan (Bali)
                       Prasasti Trangganu (Terengganu tahun 1326 atau 1386)
                       Prasasti Pagar Ruyung (tahun 1356)
                       Nisan Minye Tujuh (Aceh, tahun 1380)
                       Prasasti Kebon Kopi (Bogor, Jawa Barat)
                       Prasasti Jebung (Lampung)
                       Prasasti Padang Roco (Sumatra Barat)
                       Prasasti Bukit Gombak (Sumatra Barat)

              Aksara Dalam Tulisan
                        Aksara yang digunakan
                       Melayu Kuno ditulis dalam aksara Palawa dan Dewanagari
                       Melayu Klasik ditulis dalam aksara Jawi (modifikasi Arab)
                       Melayu Peralihan dan kemudian ditulis dalam aksara Latin
                       Aksara Latin menurut ejaan Bahasa Belanda (Indonesia)
                       Aksara Latin  menurut ejaan Bahasa Inggris (Malaysia)
              Contoh Prasasti yang menggunakan Bahasa Melayu :
              Prasasti Kedukan Bukit
                       Svasti cri
                       cakavarsatita 605 ekadaci
                       cuklapaksa vulan vaicakha dapunta
                       hyang nayik di samvau mangalap
                       siddhayatra
               

              ❤ KAPITA SELEKTA ❤ Copyright © 2011 Design by Ipietoon Blogger Template | Best Gift ideas